Masjid Raya Sultan Riau atau disebut juga Masjid Sultan Riau merupakan salah
satu masjid tua dan bersejarah di Indonesia yang berada di pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang,
provinsi Kepulauan Riau.
Masjid ini merupakan salah satu masjid unik karena salah satu campuran bahan
bangunan yang digunakan adalah putih telur.
Masjid Sultan Riau ini sudah dijadikan situs cagar budaya oleh pemerintah Republik Indonesia.[1]masjid dengan ketebalan dinding mencapai
50 cm ini merupakan satu-satunya peninggalan Kerajaan Riau-Lingga yang
masih utuh. Bahkan, hingga kini masjid ini masih digunakan oleh warga untuk
beribadah. Luas keseluruhan kompleks masjid ini sekitar 54,4 x 32,2 meter.
Bangunan induknya berukuran 29,3 x 19,5 meter, dan ditopang oleh empat tiang.
Lantai bangunannya tersusun dari batu bata yang terbuat dari tanah liat. Di
halaman masjid terdapat dua buah rumah sotoh yang diperuntukkan bagi musafir
dan tempat menyelenggarakan musyawarah. Selain itu, di halaman masjid juga
terdapat dua balai, tempat menaruh makanan ketika ada kenduri dan untuk berbuka
puasa ketika bulan Ramadhan tiba.Dari Dermaga
Panjang dan Pelabuhan Sri Bintan
Pura, Kota Tanjungpinang, bangunan Masjid Raya Sultan Riau yang
berwarna kuning cerah terlihat mencolok di antara bangunan-bangunan lainnya di
pulau Penyengat, pulau kecil seluas 240 hektar itu. Tiga belas kubah dan empat
menara masjid berujung runcing setinggi 18,9 meter yang dulu digunakan oleh
muadzin untuk mengumandangkan panggilan salat membuat bangunan itu tampak megah
seperti istana-istana raja di India.Susunan kubahnya
bervariasi mengelompok dengan jumlah tiga dan empat kubah. Ketika kubah dan
menara tersebut dijumlahkan, ia menunjuk pada angka 17. Hal ini dapat diartikan
sebagai jumlah rakaat dalam salat yang harus dilakukan oleh setiap umat Islam
dalam sehari.Sejak dibangun tahun 1832 dengan bangunan beton seperti yang kita
lihat sekarang ini, Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat tidak pernah di renovasi
atau di ubah bentuknya.
SejarahMasjid ini mulai dibangun sekitar tahun 1761-1812. Pada awalnya, masjid ini hanya berupa bangunan kayu sederhana berlantai batu bata yang hanya dilengkapi dengan sebuah menara setinggi lebih kurang 6 meter. Namun, seiring berjalannya waktu, masjid ini tidak lagi mampu menampung jumlah anggota jemaah yang terus bertambah sehingga Yang Dipertuan Muda Raja Abdurrahman, Sultan Kerajaan Riau-Linggga pada 1831-1844 berinisiatif untuk memperbaiki dan memperbesar masjid tersebut.Untuk membuat sebuah masjid yang besar, Sultan Abdurrahman berseru kepada seluruh rakyatnya untuk beramal dan bergotong-royong di jalan Allah. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada tanggal 1 Syawal 1248 Hijriah (1832 M), atau bertepatan dengan hari raya Idul Fitri. Panggilan tersebut ternyata telah menggerakkan hati segenap warga untuk berkontribusi pada pembangunan masjid tersebut.Orang-orang dari seluruh pelosok teluk, ceruk, dan pulau di kawasan Riau Lingga berdatangan ke Pulau Penyengat untuk mengantarkan bahan bangunan, makanan, dan tenaga, sebagai tanda cinta yang tulus kepada Sang Pencipta dan Sang Sultan. Bahkan, kaum perempuan pun ikut serta dalam pembangunan masjid tersebut sehingga proses pembangunannya selesai dalam waktu yang cepat. Terbukti, fondasi setinggi sekitar 3 meter dapat selesai hanya dalam waktu 3 minggu.Konon, karena banyaknya bahan makanan yang disumbangkan penduduk, seperti beras, sayur, dan telur, para pekerja sampai merasa bosan makan telur sehingga yang dimakan hanya kuning telurnya saja. Karena menyayangkan banyaknya putih telur yang terbuang, sang arsitek memanfaatkannya sebagai bahan bangunan. Sisa-sisa putih telur itu kemudian digunakan sebagai bahan perekat, dicampur dengan pasir dan kapur, sehingga membuat bangunan masjid dapat berdiri kokoh, bahkan hingga saat ini.
Keistimewaan
dan KeunikanKeistimewaan dan keunikan masjid ini
juga dapat dilihat dari benda-benda yang terdapat di dalamnya. Di dekat pintu
masuk utama, pengunjung dapat menjumpai mushaf Al Quran tulisan tangan yang diletakkan di dalam
peti kaca di depan pintu masuk. Mushaf ini ditulis oleh Abdurrahman
Stambul, putera Riau asli pulau Penyengat yang diutus oleh Sultan
untuk belajar di Turki pada tahun 1867 M.Sebenarnya, masih ada
satu lagi mushaf Al Quran tulisan tangan karya Abdullah
Al Bugisi yang terdapat di masjid ini, namun tidak diperlihatkan
untuk umum. Usianya lebih tua dibanding mushaf yang satunya karena dibuat pada
tahun 1752 M. Di bingkai mushaf yang tidak diketahui siapa penulisnya ini
terdapat tafsiran-tafsiran dari ayat-ayat Al Quran. Hal ini mengindikasikan
bahwa orang-orang Melayu tidak hanya menulis ulang mushaf, tetapi
juga mencoba menerjemahkannya. Sayangnya, mushaf tersebut tidak dapat
diperlihatkan kepada pengunjung lantaran kondisinya sudah rusak. Mushaf ini
tersimpan bersama sekitar 300 kitab di dalam dua lemari yang berada di sayap
kanan depan masjid. Pengunjung juga dilarang untuk mengambil foto di dalam
masjid.Benda lainnya yang menarik untuk dilihat adalah sebuah mimbar yang
terbuat dari kayu jati. Mimbar ini khusus didatangkan dari Jepara, sebuah kota kecil di pesisir pantai utara
Jawa yang terkenal dengan kerajinan ukirnya sejak lama.
Sebenarnya, ada dua mimbar yang dipesan waktu itu, yang satu adalah mimbar yang
diletakkan di Masjid Sultan Riau ini, sedangkan yang satunya lagi, yang
berukuran lebih kecil, diletakkan di masjid di daerah Daik Lingga.Di
dekat mimbar, Masjid Sultan Riau ini tersimpan sepiring pasir yang konon
berasal dari tanah Makkah al-Mukarramah,
melengkapi benda-benda lainnya seperti permadani dari Turki
dan lampu kristal yang merupakan hadiah dari Kerajaan Prusia (Jerman) pada tahun 1860-an. Pasir ini dibawa oleh
Raja Ahmad Engku Haji Tua, bangsawan Riau
pertama yang menunaikan ibadah haji, yaitu pada tahun 1820
M.
Pasir tersebut biasa digunakan masyarakat setempat pada upacara jejak tanah,
suatu tradisi menginjak tanah untuk pertama kali bagi anak-anak.Selain itu,
masjid yang memiliki tujuh pintu dan enam jendela ini juga dilengkapi dengan
beberapa bangunan penunjang, seperti tempat wudhu, rumah sotoh, dan balai
tempat melakukan musyawarah. Bangunan tempat mengambil air wudu berada di
sebelah kanan dan kiri masjid. Adapun rumah sotoh dan balai tempat pertemuan
berada di bagian kanan dan kiri halaman depan masjidBalai-balai yang bentuknya
menyerupai rumah panggung tak berdinding ini dulu digunakan sebagai tempat
untuk menunggu waktu salat dan berbuka puasa pada bulan Ramadhan, sedangkan
rumah sotoh, bangunan dengan gaya arsitektur menyerupai rumah di Arab
namun beratap genting ini, sebelumnya merupakan tempat untuk bermusyawarah dan
mempelajari ilmu agama. Beberapa ulama terkenal Riau pada masa itu, seperti Syekh
Ahmad Jabrati, Syekh
Arsyad Banjar, Syekh
Ismail, dan Haji
Shahabuddin, pernah mengajarkan ilmu agama di tempat ini.Dalam dua
kali pameran mesjid pada Festival
Istiqlal di Jakarta (1991-1995)
disebutkan bahwa Mesjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat ini merupakan
mesjid pertama di Indonesia yang memakai kubah.
TradisiMasjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat memiliki tradisi
unik dalam memperingatai hari-hari besar Islam, seperti tahun baru Islam setiap
tanggal 1 Muharram yang ditandai dengan berkeliling kampung
selama tiga hari pada malam hari dengan Ratib
Saman. Tujuannya untuk pembersihan kampung dari hal-hal yang tidak
baik, seperti mengazankan tempat-tempat yang dianggap angker.[2]Pada Maulid Nabi Muhammad SAW juga berkeliling kampung
sebelum membacakan Kitab Al-Barzanji
di Masjid. Selain itu juga pembacaan hikayat Isra Mi`raj Nabi Muhammad S.A.W
saat peringatan Isra
Mi`raj. Beberapa hari sebelum datang bulan Ramdhan setiap tahun juga
dilakukan Kenduri
Jamak yang diikuti seluruh warga Penyengat dan warga pulau lainnya
di Masjid Sultan Riau.
Cagar BudayaMasjid Raya Sultan Riau atau Masjid Raya Penyengat,
ditetapkan pemerintah sebagai benda cagar budaya bersama 16 situs sejarah lainnya di
Pulau milik Engku
Putri itu. Pemerintah bersama warga Pulau Penyengat tetap berusaha
melestarikan peninggalan sejarah Kerajaan Riau-Lingga di pulau ituPelestarian
benda-benda cagar budaya di Pulau Penyengat dibawah pengawasan Pemkot
Tanjungpinang, provinsi Kepulauan Riau, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, serta
Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar, Sumatra Barat dan Balai Arkeologi Medan.
Wisata
RohaniMasjid Sultan Riau Pulau Penyengat
senantiasa menarik perhatian para pengunjung dari berbagai daerah, terutama di
bulan suci Ramadhan. Pengunjung dari berbagai daerah Indonesia serta dari
mancanegara terutama dari Singapura dan Malaysia berdatangan ke masjid ini. Selain untuk
melaksanakan sholat, juga untuk menikmati keindahan masjid tua ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar